Showing posts with label sweet moment. Show all posts
Showing posts with label sweet moment. Show all posts

Friday, December 12, 2008

sudah pulang, sayang?

sms dari Han.

belum, aku masih klekaran di sini. mau jemput?

boleh. aku lagi cari sarapan di Ngesrep, habis main ke gombel. tunggu sebentar ya.

beja.

biasanya aku pulang harus jalan kaki dulu sekitar sekilo sampai ke jalan besar kalau mau pulang. di sini tidak ada ojek, dan aku tidak enak keseringan minta dianter suami mbak Atik, yang ngurusi sanggar. aku bisa saja mengacungkan tangan pada mobil atau motor yang lewat, numpang. tapi… ah, ngga keren blas. jalan sekilo aja kok pake nyegat kendaraan orang. aku bisa saja numpang peserta lain yang bawa motor atau mobil. tapi mereka biasanya langsung cabut begitu selesai kelas.

hari ini tidak ada mbak Endang, yang mungkin jadi penyebab tidak ada Evi GrEs, tidak ada Naning dan Evi SetBud. tidak ada gerombolan emak-emak sinting yang biasa betah ngobrol ngalor ngidul sambil ngetus keringet yang barusan sengaja diperas. padahal aku butuh ketemu mereka. seperti ayunan kaki dan tangan, dan lompatan, dan engkak- engkuk badan yang baru saja kami lakukan, dan musik menghentak yang menggetarkan kaca di sekeliling dinding kelas; aku membutuhkannya seperti mereka yang doyan alkohol menenggak minuman keras untuk sesaat membakar masalah di kepala.

jadi aku ngisis sendiri di samping jendela. mencoba menenangkan hatiku yang masih berantakan. aku memang sudah tidak menangis. mungkin air mataku telah habis keluar bersama keringat yang kualirkan setiap sore, mm… bisa kah? tapi aku masih belum bisa tersenyum, karena senyumku adalah palsu. tawaku dibuat-buat. dan aku masih belum bisa lagi bernyanyi, karena senandung yang keluar dari mulutku sesungguhnya adalah jeritan.

orang terakhir telah melambaikan tangan dan turun. aku menjejalkan lembaran baju senam yang basah dan bau ke ranselku. melongok sebentar ke arah parkiran, Han belum datang. tapi aku turun juga, harus membayar susu kotak yang tadi kupakai menenangkan perut yang belum puas dengan sebongkah donat.

ring ring…

‘ya… aku lagi mbayar, bentar ya..’
’sekalian beliin suara merdeka ya’

di mobil…

‘jadi dari tadi kamu belum ke kantor?’
‘belum, aku sudah pamit dan sekalian mengunjungi dealer gombel’
’sekarang kita pulang?’
‘lha kamu mau pulang atau mau ke mana?’
‘kamu ngga ke kantor?’
‘aku tetep ke kantor lah…’
‘katanya sudah pamit…’
‘pamit telat thok… bukan nggeblas sampai sore..’

yah, tiwas aku sudah seneng.

semangkuk soto di warung pak Niti, dan sebagasi penuh kasih sayang, mengisi perut dan hatiku, lalu kami pulang.

Han masih membaca koran sebentar. aku tengkurap di matras di depan tivi, ditindih Ar, dipeluk Ir, di dekat Ibit yang terpukau Oliver Twist.

sebuah kecupan di pipi membuatku membuka mata. menyadari tivi telah mati, anak-anak pergi menengok persiapan pentas wayang untuk apitan nanti malam.

‘aku berangkat..’

‘hmm..’

jam sebelas kurang seperempat. aku masih boleh merem seperempat jam lagi, sebelum masak sayur lodeh dan nggoreng tempe. toh aku cuma butuh 20 menit untuk itu.

hmm… hmmm…

Read more!

Wednesday, November 12, 2008

08.45 dan message sent….

dan delivered.
tapi tidak ada balasan. aku menunggu. sejam…. dua jam…
aku ingin menelepon. tapi sms pun tidak dijawab, apalagi telepon?
dial. calling. dan tidak diangkat.
….
3 jam… 4 jam… seharian.
begitu sibuknya kah kamu, mas? aku ingin mengajakmu makan siang. aku ingin wadul, ada orang yang menyebalkan. aku ingin cerita, ada hal yang menyenangkan.
….
hari ini sepi, kamu sama sekali tidak bisa dihubungi.
….
15.30 dan aku harus pulang. aku ada kelas jam 17.00 aku tidak ingin terlambat dan membuat kelasku menunggu.
‘aku pulang duluan ya…’ dan message sent, dan delivered. tapi tetap belum ada jawaban.
….
20.00 dan aku terkapar. sudah kutumpahkan jenuh dan kesalku, dengan meluapkan energiku, bergerak dan berteriak. mandi air hangat meluruhkan lelah, menyisakan kantuk menggelayutiku.
….
dari handphoneku terdengar michael buble menggumamkan ‘save the last dance for me’, masku menelepon.
‘sudah tidur?’
‘hampir’
‘bisa tunggu? aku ingin menculikmu’
….
21.22 dan kami duduk di bangku milik penjual nasi goreng pinggir jalan langganan kami, menunggu pesanan kami jadi.
‘maaf, hari ini aku sibuk sekali’, katanya sambil memainkan rambutku,’ tapi aku masih ingin menghabiskan sedikit waktu denganmu’
aku diam, memandang wajah lelahnya, mendengarkan cerita penat harinya.
….
terima kasih, mas. setidaknya terbayar sepiku tanpa sapamu hari ini….

111008 Read more!

matanya berkaca-kaca menggenggam tanganku…

“anakmu berapa ndhuk?”
“tiga,budhe..”
“katanya ada yang kembar?”
aku mengangguk, dia memeluk.

aku telah menemukan yang kucari. tapi aku ragu apakah aku masih ingin menemui.
“dan dia, berapa anaknya budhe?”
dia menggeleng, “dia belum menikah, ndhuk. sudah dilangkahi adiknya, tapi dia masih belum mau juga. aku ndak tahu dia nunggu apa..”

aku telungkup di pangkuannya. perempuan setengah baya yang sudah lebih dari tujuh tahun tak kusapa. perempuan yang pernah menjadi tempat aku berlari ketika tak ada siapa-siapa. yang menyuapiku dengan nasi thiwul gurih asin. atau mendongengiku tentang ‘jakarta’. sambil dia menyibak-sibak rambutku mencari kutu. membuatku aku terkantuk-kantuk di pangkuannya, di bawah teduhnya pohon jambu.

air matanya menetes menjatuhiku, sedang milikku membasahi pangkuannya.
“aku senang melihatmu bahagia ndhuk. doakan kakangmu itu…”
“sampaikan salamku padanya, budhe. aku minta maaf, kali ini aku tidak cukup waktu untuk menemuinya”

sedang sesungguhnya aku tahu aku tak akan sanggup. aku takut dia tidak akan mau menemuiku, seperti dia tidak mau hadir di pernikahanku… entahlah, aku juga tidak yakin aku akan cukup kuat melihatnya. seperti beberapa tahun yang lalu ketika aku bergetar melihat tubuh pendeknya memikul tabung gas di kios di pasar kulon…

apakah aku telah menjadi sombong? apakah dia menjadi rendah diri? sialan, kenapa harus tercipta jurang ini?

karena semua hal telah menjadi berbeda. karena masa telah mengubah manusia, juga kami berdua. betapa aku ingin bersikap biasa saja, seperti anak-anak yang berteman tanpa prasangka. tapi jangan tanya, aku tak yakin aku bisa…



101008

Read more!

Hening di sepanjang perjalanan....

Kugenggam tanganmu tak ingin kulepaskan. Karena hari telah berlalu begitu cepatnya, dan melewatinya bersamamu membuatnya tak terasa….

Berbulan berharap akan sebuah pertemuan, bersabar dalam penantian. Telah kudapati waktu akhirnya aku bersamamu. Walau hanya sesaat duduk di sampingmu, berbicara tentang hal tak tentu. Menghirup teh yang tak terkecap rasanya oleh lidahku, karena aku lebih menikmati wajahmu..

Menumpahkan rindu yang lama tertahan. Melimpahkan rasa yang tak pernah terungkapkan. Hanya mengalir bersama setiap perkataan, dihayati bersama setiap tatapan, diresapi tanpa sedetik terlewatkan. Oh waktu, masihkah kau berpihak padaku?

“Kenapa waktu begitu cepat berlalu?”, tanyamu.

Karena kita telah begitu lama menunggu. Dan seolah yang kita miliki ini tak akan pernah cukup untuk membayar penantian itu. Karena kita tak tahu bagaimana melewati waktu, hingga dapat tercurahkan semua dendam selama aku jauh darimu…

Taksi telah berhenti di depan terminal 1A. Kau tuntun aku turun dan berjalan di selasarnya.

“Masih ada tiga puluh menit sebelum kau harus check in”, katamu.

Dan aku, seperti juga kau, tak akan membiarkan waktu itu hilang tak berguna. Aku masih ingin bersamamu. Aku belum ingin meninggalkanmu. Aku…. tak pernah ingin meninggalkanmu. Jadi kubiarkan kepalaku rebah di dadamu. Terdiam tanpa kata. Karena kata tak akan bisa mewakili perasaan kita. Kebahagiaan yang telah tereguk beberapa saat lalu. Ketakrelaan hati membiarkannya usai. Kegundahan hati terbayang berbulan penantian lagi…

“Kau harus pergi”, katamu.

Dan aku hanya bisa menatap matamu. Yang menghujam jauh ke dalam lubuk hatiku. Melebihi keindahan semua kata yang ada di dunia. Mengatakan betapa dalam perasaan yang kau punya. Dan tak pernah kau minta aku berkata kau pun telah mengetahuinya, bahwa aku merasakan yang sama.

Kau raih kepalaku, dan kau kecup lembut keningku.

“Terbanglah, sayang. Kau akan bawa sebagian diriku bersamamu”, katamu.

Dan sebagian diriku kutinggalkan bersamamu.

Berlari aku meninggalkanmu, atau aku akan terpaku tak pernah sanggup meninggalkanmu. Melambai kepadamu yang tak henti menatapku hingga pandangan tak lagi sanggup beradu.

Telah kau penuhi hatiku hari ini, akan kusimpan setiap detik kenangan kebersamaan. Menjadi pegangan jika nanti kembali aku dihempas kerinduan. Karena entah kapan, kita bisa lepaskan rindu dendam…

*Bandara Soekarno Hatta, 2 Nopember 2008*

Read more!

Saturday, September 13, 2008

Mesin mobil mati.

Kau memandangku, aku memandangmu.
‘Sudah?’ tanyaku
‘Sudah’
‘Belum’
Kau menghela nafas. Lalu seperti biasa membuang muka ke arah jalan, menyandarkan badan. Menarik-narik bibir dengan tangan kananmu, sementara tangan yang lain menggenggam persneling seolah tak kau biarkan dia bergerak sendiri.
Aku bosan melihatmu begitu, dan aku menaikkan kedua kakiku, memeluk dengkulku. Tapi ah, tidak nyaman banget, jadi kuturunkan lagi dan aku ikut-ikutan membuang pandangan ke arah lain.
Diam.
Ok, kau mendekatkan wajah dan mengecup pipi kananku. lalu apa, kau berharap aku pergi setelah itu?
‘Aku belum mau turun’.
Aku masih ingin lebih lama bersamamu. Kenapa waktu seperti berlari kalau kita sedang bersama?
Kau mendekatkan wajah lagi dan mengecup keningku, ‘Turunlah. Masih ada waktu lagi’
Aku menarik diri dan bersandar lagi. Tapi kali ini kau menghadap ke arahku, menatap penuh permohonan supaya aku meninggalkanmu.
Baiklah, tak enak juga bersamamu dalam suasana beku.
Aku melihat ke arah luar. Di warung itu dua orang sedang minum es teh dan sepertinya sedang menunggu pesanannya datang. Tepat di seberang jalan seseorang sedang berdiri menatap tepat ke arah mobil. Dan kulirik ke spion tampak pengemudi mobil di belakang juga sedang menatap ke depan, ke arah mobil kita.
Ah… bagaimana ini? Tidak bisa. Aku benar-benar harus pergi. Tapi… ah mbuh lah. Mungkin belum waktunya.
Aku ulurkan tangan dan kau sambut lantas kau kecup. Kutarik kau mendekat dan menyerahkan pipimu. Tak tepat, sayang. Kupingmu yang berada di depanku. Lembut kupegang dagumu untuk mendapatkan pipi. Tapi… ah, tanggung amat. Sedikit tambahan sudut putar dan bibirmulah beradu dengan milikku.
Diam, jangan mundur, karena kini erat kupegang dagumu. Bukan kecupan, entah apa merasukiku, aku mencium dalam. Sekilas. Ingin kuperpanjang tapi akhirnya kulepaskan. Membiarkan kita berdua kebingungan. Tak sanggup berkata.

Kau memandangku, aku memandangmu.
Sudah, kali ini benar-benar sudah, walau tak akan kukatakan.
Dan kubuka pintu lalu turun. Tanpa berkata-kata meninggalkanmu yang juga terdiam tak bicara. Aku berjalan cepet secepat degup jantungku yang memburu. Bertanya-tanya apa yang kau pikirkan dan rasakan.
Ah, mbuh lah….

Read more!

Friday, July 18, 2008

istriku

boys and girls, please don’t try this at home. it’s very, dangerous…

kami baru saja selesai bercinta. tenggelam dalam kenikmatan yang melelahkan. istriku masih meringkuk di pelukanku. aku sendiri masih melayang.

“tam, kau bersihkan diri dulu”, bisiknya

“kenapa tidak kau dulu?”

dia cuma melenguh pelan, manja.

aku selalu mencintai istriku. sangat. bahkan ketika kami berjauhan, aku selalu memikirkannya, hanya dia. membayangkannya membuatku berdesir. berdekatan dengannya membuatku bergelora. menyentuhnya membuatku ingin menggumulinya…

istriku bukan wanita istimewa. biasa saja. bukan yang cantik seperti luna maya, atau yang badannya aduhai seperti dewi persik atau azhari sekeluarga. hidungnya tak terlalu mancung. matanya tak terlalu lebar atau sipit. dagunya tidak lancip. pipinya tidak naik. semua biasa saja.

badannya apalagi. masih bisa terlihat sisa-sisa baby-weight di sana sini, bahkan setelah lima tahun kelahiran satu-satunya anak kami. kadang dia mengeluhkannya, lalu aku akan berkata aku tak peduli. tapi kurasa sebenarnya dia juga tak peduli, hanya pura-pura saja merasa tak nyaman. sedangkan aku, aku benar-benar tak peduli. malah menurutku, dia lebih bagus agak montok begitu, daripada kurus seperti pada saat aku menikahinya.

istriku lebih suka bercinta dalam terang. maksudku benar-benar terang. dengan lampu neon 18 watt yang terpasang di plafon kamar kami. dan dia akan membiarkanku melihatnya.

aku sendiri lebih suka melakukannya dalam gelap. tidak benar-benar gelap. aku akan membuka gorden jendela kamar kami dan membiarkan cahya-entah-apa masuk dan memberikan sedikit benderang dalam pekat. remang memberiku lebih banyak gairah dan imajinasi di kepalaku. dan begitulah kami ini melakukannya.

dalam terangnya gelap kupandangi wajah istriku, kukecup keningnya. dia sudah tertidur. perlahan kulepas rengkuhku, aku tak mau dia terbangun. aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

ketika aku kembali, kunyalakan lampu.

oh tuhan, itu istriku tertelungkup tanpa busana di ranjang kami. kakinya lurus tak tertekuk sedikit pun. kedua lengannya juga lurus ke atas sehingga bisa kulihat dadanya sedikit saja. nafasnya naik turun perlahan, teratur.

aku tak pernah menyadari istriku seindah ini. ingin kusentuh, kubelai, kucium lagi. tapi aku tak mau mengganggu tenang lelapnya. jadi aku duduk di lantai menikmati keindahannya. memandang, dan memandang saja. dari sudut ini. lalu aku berdiri dan memandangnya dari sudut yang lain. lalu dari sudut yang lain lagi. dan hanya kutemukan keindahan yang sama.

aku bersyukur atas apa yang tuhan beri untukku.

kutarik selimut dan menebarkannya di atas tubuh istriku. aku berbaring di sampingnya sambil tetap memandangi wajahnya yang damai, hingga aku pun jatuh tertidur tanpa menyadarinya. Read more!

Saturday, June 14, 2008

aku VS ibu

Tepuk tangan, aku menunduk menghormat, meletakkan microphone, dan turun dari panggung.Teringat Ibu. Dengan suara seriosanya. Biar mbakku bilang ibu kalo nyanyi menakutkan, oh ngga… Ibu pinter baca not. Pitch controlnya hebat! Ibu yang mengajari aku menyanyi.

Waktu sekolah aku bikin kartu ucapan, cincin, tas, apa aja… buat dijual. Ke temen, atau dititipin di toko. Siapa yang ngasih ide? Ga ada. Cuma Ibu yang memintaku nitip donat di kantin sekolah, membuatku berpikir, ‘aku bisa jualan apa ya...?

Waktu awal-awal kos jaman kuliah, tiba-tiba temen dari kamar sebelah menarikku ke belakang rumah kos, ke tempat cucian. Katanya: La, ajari aku nyuci baju. Sabunnya seberapa? Airnya seberapa?Mmmm… aku ahlinya. Siapa yang ngajarin? Ga ada. Cuma Ibu yang memberiku tanggung jawab mengurus baju sejak aku SMP, setelah dua mbakku kuliah di lain kota. Membuat aku menjadikan dua pekerjaan itu, favoritku.

Di lain hari, lagi-lagi aku ditarik, kali ini ke dapur. Katanya: La, ini air udah mendidih belum? Mendidih itu gimana sih?Wordless. Aku sama sekali bukan ahlinya masak. Tapi ya ngertilah yang namanya oseng-oseng, sayur bayem, tempe goreng. Perbendaharaan ‘masak’ yang semakin bertambah setelah aku menikah. Setiap mau masak nelpon Ibu, ‘Bu, bumbunya apa...?’Nyesel kenapa dulu kalo Ibu masak cuma nungguin. Ga pernah bener-bener bantuin, apalagi minta diajarin...

Waktu SD, aku duduk di pojok kelas, menangis. Teman-teman mengolok-olokku karena boneka dari kain yang kubuat untuk pelajaran ketrampilan. Bukan karena jelek, tapi justru karena bagus. Kalo bagus, kenapa diolok-olok? Dengar dulu kata-katanya: La dibikinin... La dibikinin... Dan Bu Guru lebih percaya kata-kata mereka.Sumpah, aku bikin sendiri! Ibu hanya mengajariku tisik ini dan tisik itu....

Suatu ketika anakku sakit. Diopname. Diinfus. Aku duduk di sebelahnya. Nelangsa, sampai ga doyan makan. Begitu anakku sembuh dan keluar dari rumah sakit, gantian aku yang sakit.

Dulu waktu Bapak sakit, diopname, diinfus. Ibu nungguin di sebelah Bapak. Tapi Ibu tetap makan. Katanya: Ibu tidak mau menambah jumlah orang yang sakit.

Ahh... baru jam setengah lima. Masih bisa merem setengah jam lagi.
JRENG JRENG!! Melek-melek udah jam setengah enam. Jadilah lintang pukang gedabigan menyiapkan pagi.Aku ingat jaman dulu. Jam setengah empat Ibu udah kluthak –kluthik di dapur. Nyiapin sarapan. Masak buat makan siang. Aku yang bangun belakangan paling-paling cuma sempat nyapu sebelum berangkat sekolah. Dari dulu aku selalu berpikir, apa aku bisa seperti Ibu, bangun segitu pagi?Terjawab sudah. Sampai sekarang belum berhasil.

Ibu memangku aku, ketika di TK aku tidak mau menyanyi maju, hanya menggelendot padanya dan minum susu.

Ibu menungguiku lomba matematika.

Ibu menungguiku belajar. Memberiku banyak pertanyaan sehingga aku siap menghadapi tes.

Ibu mencariku sambil menangis penuh kehawatiran, ketika aku ngambek dan sembunyi di atas ‘jagrag’ di belakang rumah karena suatu keinginanku tidak dikabulkan (UGH... what a bad girl, aku malu banget mengingat ini!)

Haruskah kuceritakan lebih banyak lagi? Tentang hal-hal yang kelihatan sepele yang dilakukan Ibu untukku? Baiklah, satu saja, yang tak akan terbantahkan mengapa aku menghormati (dan semakin menghormati) Ibu apapun keadaanya. Satu hal yang pertama kali dia lakukan untukku, menjelang dan saat kehadiranku di dunia... Ibu mengandungku selama sembilan bulan, dan bertaruh nyawa melahirkan aku.

You know what, satu hal yang paling kukagumi dari Ibu? Ibu wanita kuat. Karena hanya wanita kuat, yang sanggup meninggalkan hidup nyaman, lalu menikah dengan Bapak, dan mau diajak melarat. Bertahan dan bersama Bapak meraih hidup yang lebih baik, membesarkan lima anak yang bermacam-macam kelakuannya, dan sering menyusahkan (terutama aku!).

Ibu benar-benar wanita kuat. Yang membuatku berharap aku bisa sekuat dia. Yang membuatku malu menjadi wanita cengeng. Aku menjadi sekuat aku sekarang, dengan sebagian besar kekuatan yang kudapatkan dari Ibu, menghadapi sekitar yang sering memandang sebelah mata padaku, berdiri dan berteriak mempertahankan diriku, berjuang dengan segala keterbatasan, survive, dan masih aku merasa, aku sama sekali bukan apa-apa, dibandingkan dengan Ibu.

Tak ada satu pun hal sepele yang Ibu lakukan. Semua hanya kelihatannya sepele. Tapi justru semua itu yang membuat kami, anak-anaknya, tumbuh mandiri. Wataknya yang keras adalah bentuk kemauannya yang sama kerasnya. Betapa dia ingin anak-anaknya menjadi pintar, sehingga kalau tiba masa tes, dia hanya meminta anak-anaknya belajar dan belajar – tinggalkan semua pekerjaan rumah, biar Ibu yang lakukan.

Ibu adalah orang yang penuh kasih sayang, hanya dia sulit untuk mengungkapkan. Bahkan kadang terlihat gengsi untuk menunjukkan. Tapi tidak lagi, ketika kami dewasa dan selalu berusaha menunjukkan sayang, cinta dan hormat kami padanya. Mungkin terlambat, atau sebenarnya sama sekali tidak ada kata terlambat, Ibu sekarang bisa dengan mudah menunjukkan kasih dan kelembutan.

Innal jannatu tahta aqdamil ummahat.... Read more!

Friday, June 6, 2008

look at me

it’s me you are talking to, don’t look away

and I touch your cheek softly, turn your head so you face me.

i’m afraid of the magic in you
i’m not a witch

oh the look in your eyes. it’s so deep get into my hart through mine. i can’t stand, now i’m the one to look away.

i’m looking at you now

i know but i look afar, and play your long sleeve edge with my fingers. i can feel you looking at me, and my fingers, and me, and away… so i found the courage to look at you again, who is looking away.
oh love, has brought us to this silly situation we’re in
oh love, has turned us into two fools having empty conversation
oh love, has melted our hart
like a bar of chocolate you gave, that’s melted in the warmth of our holding hands. Read more!