Tuesday, October 14, 2008

"Bowo!" (4)

Besoknya Anto datang bersama Helen ke kafe tempat aku biasa nongkrong bersama Rizal. Kelakuan Rizal dan Anto. Mereka langsung pergi dan meninggalkan Helen bersamaku.

Aku tidak bisa bilang tidak, Helen cantik. Laki-laki mana pun akan mudah menyukainya, atau mungkin bahkan jatuh cinta. Lihat saja, kulitnya yang putih dan halus tanpa cela. Hidungnya mancung, bibirnya tipis. Wajahnya dipoles make up sederhana tapi mempesona. Rambutnya yang lurus selewat bahu dicat tembaga. Pembawaannya ceria.

Tapi aku tetap bingung harus ngobrol apa dengannya. Aku hanya menanggapi sebisaku obrolannya tentang kegiatannya sebagai aktivis kampus.

Dan aku sama sekali tidak merasa nyaman bersamanya.

***

“Ayo Wo, jangan kecewakan Helen”, rayu Rizal lagi.

Aku masih enggan. Rizal mengajakku ‘double date’ malam minggu ini. Dia akan mengajak Nina pacarnya, lalu aku dimintanya mengajak Helen.

“Jangan paksa Zal. Aku… aku gak nyaman dengan Helen”

“Ah… itu kan karena kamu belum kenal betul dengannya. Cobalah jalan dengan dia sekali ini saja. Mungkin kamu akan bisa lebih santai, siapa tahu kalian cocok”

Akhirnya dengan enggan aku mengikutinya.

Rizal sengaja memilih film hantu supaya dia bisa melindungi Nina yang ketakutan kalau hantunya keluar.

“Kamu mau nonton apa Wo?”, tanya Helen.

“Terserah kamu saja”, aku benar-benar sedang tidak ingin nonton sebenarnya.

“Bareng Nina aja ya?”

Aku mengangguk.

“Nanti kalau aku ketakutan, boleh aku nyungsep di kamu?”, tanya Helen lagi, menggoda.

Aku hanya tersenyum, malas.

Nyatanya hanya Nina yang berkali-kali nyungsep di pundak Rizal. Helen sama sekali tidak tampak takut dengan hantu-hantu yang gentayangan di layar. Aku sendiri, pikiranku sedang tidak di sini. Berkelana ke mana-mana.

Sampai suatu detik ketika kurasakan tangan Helen menyentuh tanganku, lalu menggenggam. Ingin kutarik, tapi aku tak mau Helen malu, jadi kubiarkan. Hanya saja aku diam, tak menanggapi setiap gerakannya.

Aku berangan, seandainya saja Ranti yang ada di tempat Helen saat ini.

***

Hari ini Papi ada kunjungan kerja di sini. Seperti biasa Mami ikut, dan singgah ke kosku untuk menemui anak kesayangannya ini.

Rizal baru saja akan pergi dengan Nina ketika Mami datang.

“Maaf Tante, tidak bisa menemani ngobrol agak lama. Saya harus antar Nina”, pamitnya kepada Mami.

“Iya, Zal, ngga papa. Tante juga ngga lama kok. Jam lima nanti Papinya Bowo juga harus terbang ke Jakarta lagi.”

“Sebenarnya Bowo juga ada janjian dengan Helen, Tante. Tapi dia batalkan karena Tante datang”

Sialan, Rizal ngibul. Aku melotot ke arahnya, Nina senyum-senyum saja di sebelahnya.

“Helen? Kenapa dibatalkan?”, Mami bertanya penuh keingintahuan.

“Iya Tante. Bowo lagi pendekatan sama Helen. Mungkin nanti kalau mereka sudah jadian baru berani kenalin ke Tante. Anaknya cantik Tante, baik lagi. Tante pasti cocok deh!”

“O ya?”, Mami makin penasaran, dan aku makin ingin menggampar Rizal.

“Sudah sana pergi”, hardikku, “Aku mau berduaan sama Mamiku”

Rizal tertawa, menjabat tangan Mami lalu pergi.

Mami memandangku, mungkin ingin mendengar lebih jauh tentang Helen. Tapi aku langsung pura-pura sibuk membongkar bawaan Mami: aneka makanan dan lauk kering.

***

Bulan berikutnya aku pulang. Kak Reny juga di rumah. Kami sedang berkumpul di ruang tengah sibuk sendiri-sendiri, membiarkan presenter acara gosip di tivi juga bicara sendiri.

“Jadi kapan kamu akan kenalin Helen ke Mami?”, tanya Mami tiba-tiba.

Aku diam sejenak sebelum menjawabnya.

“Sepertinya tidak akan pernah”

“Kenapa? Dia menolak kamu? Kamu tidak berhasil mendekati dia? Kenapa? Kurang apa kamu katanya? Dia cari yang bagaimana?”, Mami sampai meletakkan bukunya dan mencondongkan badan padaku.

Kak Reny tertawa melihat wajah Mami yang seperti terluka mengira anaknya ditolak gadis.

“Bukan Mi… Rizal itu membual. Bowo tidak pernah mendekati Helen. Cuma Rizal dan teman-teman saja yang menjodoh-jodohkan kami. Tapi Bowo… tidak sreg”

Mami duduk bersandar lagi mengatur nafas, seolah lega bahwa ternyata bukan anaknya yang tidak laku.

“Sebenarnya”, lanjutku,”ada yang ingin Bowo kenalkan pada Mami dan Papi”

“Oh ya? Kenapa tidak?”

“Karena Bowo masih ragu Mami mau punya calon besan pensiunan guru esde dari desa pelosok”

Aku melihat mata Mami terbelalak, dan Kak Reny menunduk menekur majalahnya. Aku sendiri berdiri beranjak ke kamar, pembicaraan mulai tidak menyenangkan…

Read more!

"Bowo!" (3)

Ranti tidak menjauhiku setelah kejadian itu. Tapi aku yang begitu. Karena berada di dekatnya mengingatkan aku tentang perasaanku, kekagumanku pada kesederhanaan yang membalut segala sisi kehidupannya. Berbicara padanya menjadi menyiksa. Karena aku tak sanggup lagi menatap matanya, lantas menemukan luka dibalik keceriaan yang tetap ditunjukkannya pada siapa saja.

Tak akan ada yang menyadari ada yang berubah pada dirinya. Tak akan ada yang melihat ada yang berubah pada diriku. Tak akan ada yang memperhatikan ada yang berubah pada kami.

Toh selama ini kami tak selalu berdua. Aku lebih sering bersama Rizal teman sekamarku, sedang Ranti lebih banyak bersama Susan, gadis keturunan tionghoa yang satu dosen wali dengannya.

Hanya kami yang merasakan, betapa jarak sekarang sengaja kami ciptakan. Aku masih sering cemburu melihat dia berdekatan dengan laki-laki. Dan karenanya aku berusaha tidak tampak terlalu dekat dengan perempuan. Aku tidak ingin mengingkari kata-kata yang kuucapkan. Meskipun mungkin sebenarnya dia tidak peduli sama sekali.

Aku tak tahu apakah dia tahu alasan sebenarnya. Aku tidak ingin dia tahu. Aku tidak tahu apa yang sekarang dirasakannya. Aku ingin tahu. Tapi kurasa sebaiknya aku tak tahu.

***

Semester demi semester berlalu. Ranti dan Susan masih terus bersama meskipun sudah memasuki semester penjurusan. Keduanya mengambil jurusan Umum. Aku sendiri mengambil Struktur. Tadinya aku menduga Ranti dan Susan juga akan mengambil Struktur, mengingat nilai-nilai mereka sangat mendukung. Tapi dalam hati aku bersyukur intensitas pertemuan kami akan berkurang, dan itu akan memudahkan aku melupakan Ranti.

Oh, benarkah? Karena nyatanya aku kehilangannya. Aku rindu sekedar melihat dia ada di kelas yang sama denganku walau tak saling menyapa. Alih-alih melupakannya, yang ada justru semakin nyata aku melihat senyum lebarnya, tawa lepasnya, langkah setengah lompatnya ketika berjalan, topi butut yang selalu bertengger di kepalanya…

***

“Wo, dapat salam”, kata Rizal begitu dia masuk kamar, sepulang dari nonton dengan Anto teman SMAnya yang kuliah di Ekonomi.

Aku sedang menyelesaikan Tugas Pelat Cangkang-ku. Rizal menjatuhkan diri di kasur.

“Siapa?”, tanyaku.

“Helen”

Aku ingat Helen. Dia satu jurusan dengan Anto. Mereka pernah main ke sini, dan kami sempat berkenalan.

“Kamu ketemu di mana?”

“Tadi dia ikut nonton bareng kami. Harusnya kamu ikut. Helen kayanya naksir kamu” Rizal menggodaku.

“Ga bisa, Zal. Aku harus assistensi ke Pak Heru besok pagi jam delapan. Setelah itu mungkin baru minggu depan lagi bisa menghadap beliau, kan beliau ambil S3 di Bandung”

“Ya deh, tapi… gimana menurutmu?”

“Soal apa?”

“Helen”

“Ah…”, aku ikut merebahkan diri di samping Rizal, “Entahlah. Aku baru ketemu satu kali dengannya”

“Kadang cinta muncul pada pandangan pertama. Kamu percaya itu?”

“Aku percaya itu bisa terjadi. Tapi kayanya bukan pada aku dan Helen”

“Bagaimana kalau Helen yang jatuh cinta padamu pada pandangan pertama?”

“Hmmm… itu bukan salahku. Aku memang mempesona”

Dan kami terbahak berdua.

*bersambung*

Read more!

"Bowo!" (2)

*harap dibaca sambil menyanyikan ‘hardest thing’-nya 98degrees :D*

Kami sedang bermain cross dot di pergantian jam mata kuliah. Aku membalikkan kursi ke belakang sehingga berhadapan dengannya. Kami sudah bosan dengan deret 4 dan sekarang mencoba deret 5. Ranti menang terus. Dan itu membuatnya tersenyum terus. Dan itu membuat aku ingin tersenyum bersamanya. Melihat senyumnya yang tak dibuat-buat, tak dimanis-maniskan, tak dicantik-cantikkan.

Dia memang tidak cantik. Tidak jelek juga. Manis mungkin, dengan segala kepolosannya. Ketika gadis lain memoles wajahnya dengan berbagai warna, dia biarkan coklat gelap yang seolah menjadi kebanggaannya terpapar kepada siapa saja.

“Hey, ngelamun! Ayo giliranmu”

“Aku ga ngelamun. Mikir ini. Kalah terus, lama-lama aku jadi bosen”

Kuletakkan pensilku di samping kertas strimin di hadapan kami.

“Udah nih?”

“Iya, aku ngaku kalah”

“Jadi aku dapet es krim?”

“Ya”

“Conello?”

“Apa aja?”

Dia tersenyum lebar, bahagia.

Kemaren Desi melihat aku dan Rizal sedang makan es krim di kantin. Dan dengan gaya manjanya berkata.”Ih… es krim… mau dong…”

Aku bilang padanya, “Beli aja sendiri, tu di depan”.

Untuk Ranti, sebenarnya tanpa minta pun aku ingin belikan. Tapi dia bukan model yang mau diberi hadiah. Aku tahu. Jadi aku tantang dia main cross dot, dengan taruhan es krim. Dan aku sengaja mengalah, karena aku ingin pulang kuliah nanti aku bisa membelikannya es krim, dan makan bersamanya sambil berjalan ke halte tempat dia akan menunggu bis yang akan membawanya kembali ke kos-nya.

Pernah suatu hari aku menawari untuk mengantarnya pulang.

“Aneh kali Wo, kosmu cuma beberapa blok dari sini, tapi musti nganter aku dulu ke sana”

“Kalau pas kita kuliah di Kampus C, boleh?”

Dia cuma tertawa.

***

Siapa bilang laki-laki itu kuat? Dalam banyak hal laki-laki lemah. Atau barangkali aku saja yang seperti ini. Aku membiarkan kepengecutanku menghalangiku membiarkan perasaanku pada Ranti tumbuh lebih jauh lagi. Aku sudah cukup melihat Kak Reny menangis karena akhirnya harus menyerah pada Papi dan Mami soal Mas Surono. Aku tidak ingin Ranti mengalaminya. Aku tidak yakin Mami mau punya besan pensiunan guru SD di daerah pelosok.

Aku bisa saja nekat dan berjuang demi cinta, seperti Romeo dan Juliet. Ah, dongeng banget. Tapi kupikir, kalau belum terlanjur terjadi, biarlah tak usah terjadi. Tak perlu mengambil resiko seseorang harus tersakiti.

Jadi sore itu… Di bangku beton di bawah pohon di depan perpustakaan, untuk ke sekian kalinya aku duduk di samping Ranti. Dia yang biasanya ramai kali ini sepi. Sibuk sendiri dengan kalkulator dan tugas MT-1 nya yang tak kunjung nol.

“Apa yang salah ya?”, keluhnya.

“Udah, tulis aja Mx=0”

Dia menghela nafas, “Kalau aku cek tiga kali lagi masih belum nol, aku akan pertimbangkan saranmu”

“Atau kamu ganti kertas aja, dan ulang dari awal”

Ranti memandangku, tersenyum. Lalu meremas hasil kerjanya dan melempar ke tempat sampah.

Aku terbelalak melihat yang baru saja diperbuatnya.

“Kau benar”, katanya, “kadang lebih baik begitu. Meneliti dan mencari di mana kesalahannya supaya bisa diperbaiki, malah lebih susah”

Aku seperti menemukan momen untuk mengatakan yang aku pikirkan.

“Itu benar sekali, Ran. Karenanya aku tidak ingin membiarkan sesuatu berjalan ke arah yang tidak diinginkan, lalu kita menyadarinya setelah jauh di tengah perjalanan. Terlambat untuk balik, tapi berhenti jadi menyakitkan”

“Maksud kamu apa, Wo?”

Teriris rasanya melihat ketakmengertian di matanya. Kepolosan tanpa basa-basi yang selama ini selalu ada di sana. Yang meluluhkan tapi aku tahu aku akan hancur karena harus meninggalkannya…

“Aku tidak mau berpura-pura tidak tahu apa yang kita rasakan. Aku tahu kamu tidak menuntut janji atau kata-kata. Aku tahu kamu nyaman dengan perasaan yang cukup kita saling tahu tanpa harus diutarakan”

Kulihat matanya menanti. Mungkin dia berpikir akhirnya aku akan menyatakan cinta padanya. Oh Tuhan, ini menambah perihku melukainya.

“Kamu mau ngomong apa Wo?”

Aku menelan ludah. Dan melihat binar matanya meredup demi melihat ekspresiku yang bukan menunjukkan kebahagiaan atau harapan.

“Aku minta maaf. Tapi kurasa… aku… belum siap dekat dengan perempuan”.

It’s the hardest thing I’ll ever have to do
To look you in the eye and tell you i don’t love you
It’s the hardest thing I’ll ever have to lie
To show no emotion when you start to cry
I can’t let you see, what you mean to me
When my hands are tied, wad my hearts not free
We’re not meant to be

It’s the hardest thing I’ll ever have to do
To turn around and walk away
Pretending i don’t love you

*mau tamat atau bersambung lagi?*

Read more!

"Bowo!"

Aku menoleh ke arah suara itu. Suara renyah yang lebih terdengar seperti suara anak umur sepuluh tahunan, meski si empunya sebenarnya seumuranku.

Dia, seperti biasa, berjalan setengah berlari ke arahku.

“Kamu bawa?”

Aku meletakkan ransel di atas motor yang baru saja kuparkir, “Pasti”, lalu mengeluarkan buku partitur yang dia pesan. Dia ingin chord ‘Endless Love’-nya Lionel Richie.

Kuulurkan buku itu padanya, tapi dia malah tertegun melihatnya, lalu menatap ke arahku dengan wajah lesu.

“Kenapa?”

“Bukunya bagus banget, Wo”

“Ya emang begini. Kenapa emang?”

Ranti terdiam sejenak, lalu tersenyum, “Aku fotocopy yang aku butuhkan aja deh. Kalau bukunya aku bawa aku takut balik ke kamu tidak dalam keadaan utuh”

“Dikerikiti tikus?”

“Hihihi… bukan. Aku pake bantal. Soalnya aku maennya di kasur, kalo capek langsung nggledak aja”.

Diambilnya buku itu dari tanganku. Kubenahi ranselku dan kami berjalan bersama menuju ruang kuliah.

***

Ranti gadis sederhana. Cuek banget dengan penampilannya. Selalu celana jins dan kemeja yang itu-itu saja. Pernah kulihat dengkul jinsnya ditempeli tensoplast.

“Habis bolong, mau nambal belum sempat. Besok deh aku tisik”

Besoknya kulihat tensoplast itu sudah dilepas, tapi tidak juga ditisik.

“Jadi kelihatan bolongnya Ran…”

“Bukankah jins makin belel makin berharga?”

***

Aku tak pernah melihatnya duduk di deretan tengah. Selalu di depan, lalu menyimak dengan serius setiap kata-kata dosen, atau sekalian di belakang dan ngobrol dengan siapa aja yang duduk di sebelahnya.

“Kalau sudah di deret ketiga ke belakang aku ga bisa nyimak dosennya, jadi mendingan sekalian aja di belakang ngobrol”

“Ga sekalian aja kabur dari kuliah?”

“Ga… kalo ngabur rugi aku ngongkos angkotnya jauh-jauh ga dapet apa-apa. Kalo duduk di belakang paling tidak masih bisa ngobrol.” Lalu dia nyengir.

***

Di ujung belakang ruang kuliah, ketika suasana masih riuh rendah menunggu dosen yang terlambat, kupergoki dia melihat ke arahku, entah sudah berapa lama. Aku tersenyum kepadanya, lalu kukerlingkan mata. Dia tampak malu lalu membuang muka. Ah, kalau saja dia putih pasti sudah terlihat pipinya memerah.

Usai kuliah dia menghampiriku, “Maksud kamu apa sih, Wo?”

“Apa?”

“Pake ngedip begitu?”

“Ga papa. Nyapa aja, habis kamu ngelihatin aku tapi diem. Kalau mau nyapa pake suara musti tereak, kamu agak jauh”

Dia memukul aku dengan buku di tangannya.

***

Aku pura-pura tepekur dengan pianoku. Tapi aku mendengar Mami dan Papi sedang bicara dengan Kak Reny.

“Kenapa harus dia Ren?”, suara mami.

“Ya ngga kenapa-kenapa, Mi. Karena memang Reny suka dia”

“Apa tidak ada temanmu yang lain yang kamu suka?”

“Banyak. Reny suka semua teman Reny. Tapi yang Reny inginkan jadi pacar Reny cuma dia”

“Pikirkan lagi, Ren. Pikirkan Papi”

Kak Reny berlari ke kamar melintasi aku yang pura-pura sedang memilih lagu untuk kumainkan.

Pikirkan Papi. Aku tahu yang Papi maksudkan, kedudukannya. Papi seorang pejabat. Pengusaha. Kak Reny membawa ke hadapan Papi seorang pemuda anak supir pabrik roti, yang ibunya berjualan pecel di depan rumahnya tiap pagi.

Mengapa hal seperti ini harus jadi masalah ketika dua orang saling jatuh cinta?

*bersambung*

Read more!

Saturday, September 20, 2008

"I'm getting married, Ton", I said

"Oh really? When?"
"In two months"
"Ah, it is still a long time to come"
Well, not to me, Ton. I'm so impatiently waiting.

"So, should I invite you or not?"
"Sure you should"
"And would you come?"
"Of course I will"

A little more conversation and I hang up the phone.

***
Toni was my ex boyfriend.
We had that relationship when we were in high school. One day we had to go to college and we went separate way, we enrolled different universities in different cities. I didn't want to break up. He was still the man I loved and wanted to get married with, that time.
But one day, for one reason, he said we could not go on. He said he was tired of long distance relationship. Well I would say he was tired of me. So we said goodbye.
I'm not a kind of girl who get my heart broken, break down and cry. My life went on. I had boy friends around me, and one day one has become my boy friend, taking Toni's place. He was the boy I was talking about, the one I was about to marry.

***
One day, on my birthday. A postman came to me and handed me a letter, from Toni.
He said (wrote): Happy birthday, dear. I just realized how empty life is without you.

I stood still. You realize some thing's worthy, when it's gone. Now that he's kicked me out, he said life is empty without me?
I had some one who loved me beside me? What he did he think I would do?
So I wrote him back, "I'm sorry, you are too late"
He said he understood, and he told me to hang on with the one I was with. But he still kept calling, and wrote me letters, and visited me.
"Can I at least have you as my sister?"
"That's fine to me"
Things went that way for years...

***

The day came, my wedding.
I kept my eye on the guests. I couldn't see Toni. But later when the event was over, and everybody was in the house, taking some rest after the tiring day, some body knocked the door.

I opened the door and found Hera, Toni's sister with a young man beside him.
"Hi, Hera. What a surprise! Come on in.." I let them come in and had seats.
After some blah blah, I finally asked Hera, the first question that crossed my mind when I opened the door for her.

"Toni, he's not coming?"
"No, he told me to say hi to you, and wish you a happy marriage"
"He asked for an invitation, and he said he would come"
"I know. But he told us, he didn't know you meant it. He thought you were kidding and he was kinda shocked to receive that. He was still hoping you both could be together again"

What do you expect me to say? Read more!

Saturday, September 13, 2008

Mesin mobil mati.

Kau memandangku, aku memandangmu.
‘Sudah?’ tanyaku
‘Sudah’
‘Belum’
Kau menghela nafas. Lalu seperti biasa membuang muka ke arah jalan, menyandarkan badan. Menarik-narik bibir dengan tangan kananmu, sementara tangan yang lain menggenggam persneling seolah tak kau biarkan dia bergerak sendiri.
Aku bosan melihatmu begitu, dan aku menaikkan kedua kakiku, memeluk dengkulku. Tapi ah, tidak nyaman banget, jadi kuturunkan lagi dan aku ikut-ikutan membuang pandangan ke arah lain.
Diam.
Ok, kau mendekatkan wajah dan mengecup pipi kananku. lalu apa, kau berharap aku pergi setelah itu?
‘Aku belum mau turun’.
Aku masih ingin lebih lama bersamamu. Kenapa waktu seperti berlari kalau kita sedang bersama?
Kau mendekatkan wajah lagi dan mengecup keningku, ‘Turunlah. Masih ada waktu lagi’
Aku menarik diri dan bersandar lagi. Tapi kali ini kau menghadap ke arahku, menatap penuh permohonan supaya aku meninggalkanmu.
Baiklah, tak enak juga bersamamu dalam suasana beku.
Aku melihat ke arah luar. Di warung itu dua orang sedang minum es teh dan sepertinya sedang menunggu pesanannya datang. Tepat di seberang jalan seseorang sedang berdiri menatap tepat ke arah mobil. Dan kulirik ke spion tampak pengemudi mobil di belakang juga sedang menatap ke depan, ke arah mobil kita.
Ah… bagaimana ini? Tidak bisa. Aku benar-benar harus pergi. Tapi… ah mbuh lah. Mungkin belum waktunya.
Aku ulurkan tangan dan kau sambut lantas kau kecup. Kutarik kau mendekat dan menyerahkan pipimu. Tak tepat, sayang. Kupingmu yang berada di depanku. Lembut kupegang dagumu untuk mendapatkan pipi. Tapi… ah, tanggung amat. Sedikit tambahan sudut putar dan bibirmulah beradu dengan milikku.
Diam, jangan mundur, karena kini erat kupegang dagumu. Bukan kecupan, entah apa merasukiku, aku mencium dalam. Sekilas. Ingin kuperpanjang tapi akhirnya kulepaskan. Membiarkan kita berdua kebingungan. Tak sanggup berkata.

Kau memandangku, aku memandangmu.
Sudah, kali ini benar-benar sudah, walau tak akan kukatakan.
Dan kubuka pintu lalu turun. Tanpa berkata-kata meninggalkanmu yang juga terdiam tak bicara. Aku berjalan cepet secepat degup jantungku yang memburu. Bertanya-tanya apa yang kau pikirkan dan rasakan.
Ah, mbuh lah….

Read more!

bertahun-tahun aku menunggu...

akhirnya datang saat itu. bisakah kau bayangkan perasaaanku? bertahun, ya, bertahun kami hanya saling memandang dan bicara hal tak penting, sedang hati kami bergejolak dan mata kami mengedipkan rasa yang terpendam dalam.

keadaan kah yang membuat kami begitu? keadaan pulakah yang membiarkan dia mengikutiku dan tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipiku?

kebahagiaan yang membuncah ketika akhirnya semua terungkap bukan dengan kata-kata. lega tak terkira laksana terbebaskan beban yang menghimpit dada. melambungkan dua anak manusia dimabuk asmara…

tahukah kau, La?

ketika hanya percik-percik itu yang ada, ketika belum terlahir semuanya, ketika hanya mata mengisyaratkan dan hati menduga, aku bahagia dengan setiap perhatian kecilnya. dan hanya sedikit demam hati melihat yang lain bersamanya .

tapi kini setelah rasa diungkapkan, aku meminta lebih dari yang pernah kuharapkan. bahkan ketika dia sudah berikan, makin lebih lagi yang aku inginkan.

dan yang menyiksa batinku adalah, kini aku merasa sakit melihat kenyataan yang sudah kutahu sejak awal, bahwa dia adalah milik seseorang…

Read more!