Saturday, September 13, 2008

Mesin mobil mati.

Kau memandangku, aku memandangmu.
‘Sudah?’ tanyaku
‘Sudah’
‘Belum’
Kau menghela nafas. Lalu seperti biasa membuang muka ke arah jalan, menyandarkan badan. Menarik-narik bibir dengan tangan kananmu, sementara tangan yang lain menggenggam persneling seolah tak kau biarkan dia bergerak sendiri.
Aku bosan melihatmu begitu, dan aku menaikkan kedua kakiku, memeluk dengkulku. Tapi ah, tidak nyaman banget, jadi kuturunkan lagi dan aku ikut-ikutan membuang pandangan ke arah lain.
Diam.
Ok, kau mendekatkan wajah dan mengecup pipi kananku. lalu apa, kau berharap aku pergi setelah itu?
‘Aku belum mau turun’.
Aku masih ingin lebih lama bersamamu. Kenapa waktu seperti berlari kalau kita sedang bersama?
Kau mendekatkan wajah lagi dan mengecup keningku, ‘Turunlah. Masih ada waktu lagi’
Aku menarik diri dan bersandar lagi. Tapi kali ini kau menghadap ke arahku, menatap penuh permohonan supaya aku meninggalkanmu.
Baiklah, tak enak juga bersamamu dalam suasana beku.
Aku melihat ke arah luar. Di warung itu dua orang sedang minum es teh dan sepertinya sedang menunggu pesanannya datang. Tepat di seberang jalan seseorang sedang berdiri menatap tepat ke arah mobil. Dan kulirik ke spion tampak pengemudi mobil di belakang juga sedang menatap ke depan, ke arah mobil kita.
Ah… bagaimana ini? Tidak bisa. Aku benar-benar harus pergi. Tapi… ah mbuh lah. Mungkin belum waktunya.
Aku ulurkan tangan dan kau sambut lantas kau kecup. Kutarik kau mendekat dan menyerahkan pipimu. Tak tepat, sayang. Kupingmu yang berada di depanku. Lembut kupegang dagumu untuk mendapatkan pipi. Tapi… ah, tanggung amat. Sedikit tambahan sudut putar dan bibirmulah beradu dengan milikku.
Diam, jangan mundur, karena kini erat kupegang dagumu. Bukan kecupan, entah apa merasukiku, aku mencium dalam. Sekilas. Ingin kuperpanjang tapi akhirnya kulepaskan. Membiarkan kita berdua kebingungan. Tak sanggup berkata.

Kau memandangku, aku memandangmu.
Sudah, kali ini benar-benar sudah, walau tak akan kukatakan.
Dan kubuka pintu lalu turun. Tanpa berkata-kata meninggalkanmu yang juga terdiam tak bicara. Aku berjalan cepet secepat degup jantungku yang memburu. Bertanya-tanya apa yang kau pikirkan dan rasakan.
Ah, mbuh lah….

Read more!

bertahun-tahun aku menunggu...

akhirnya datang saat itu. bisakah kau bayangkan perasaaanku? bertahun, ya, bertahun kami hanya saling memandang dan bicara hal tak penting, sedang hati kami bergejolak dan mata kami mengedipkan rasa yang terpendam dalam.

keadaan kah yang membuat kami begitu? keadaan pulakah yang membiarkan dia mengikutiku dan tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipiku?

kebahagiaan yang membuncah ketika akhirnya semua terungkap bukan dengan kata-kata. lega tak terkira laksana terbebaskan beban yang menghimpit dada. melambungkan dua anak manusia dimabuk asmara…

tahukah kau, La?

ketika hanya percik-percik itu yang ada, ketika belum terlahir semuanya, ketika hanya mata mengisyaratkan dan hati menduga, aku bahagia dengan setiap perhatian kecilnya. dan hanya sedikit demam hati melihat yang lain bersamanya .

tapi kini setelah rasa diungkapkan, aku meminta lebih dari yang pernah kuharapkan. bahkan ketika dia sudah berikan, makin lebih lagi yang aku inginkan.

dan yang menyiksa batinku adalah, kini aku merasa sakit melihat kenyataan yang sudah kutahu sejak awal, bahwa dia adalah milik seseorang…

Read more!

Wednesday, September 10, 2008

please deh, cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning....

bagi yang belum mengikuti dari awal, aku sarankan terlebih dahulu membaca serial ini secara urut dari awal:
please deh, cin....
please deh, cin 2: pertemuan pertama
please deh, cin 3: terjebak di kericuhan
please deh, cin 4: percakapan di pagi hari
please deh, cin 5: cinta aku dan sam
please deh, cin 6: istri sam
please deh, cin 7: sang pengembara


"Kau hanya menduga tanpa alasan"�, katanya.

"Benarkah?"

"Apa dasarmu?"�

"Semua SMS itu?"

"SMS yang mana?"

"Haruskah kutunjukkan satu-satu?"

"œYa, tunjukkan!"�

Kuambil handphonenya, lalu kubuka sms-sms dari satu nama. Yang berurutan, yang terselang satu-dua nama.

"So what, kamu lihat kan, isinya biasa aja. Menanyakan kabar. Konsul tentang ini itu. Wajar kan?"

"Benarkah? Kata-katanya terlalu indah untuk disebut wajar"�
"Masalahnya dia memang penulis. Bahasanya memang bahasa sastra. Aku hanya mengimbanginya"

"Aku juga penulis, tapi aku tidak pernah sms indah pada sembarang orang"

Sam tertunduk, menekur, diam, entah apa yang dipikirkan.
Dan aku mendongak, berusaha kuat, berusaha tegar. Ini bukan pertama kalinya. Aku sudah lama berada di sampingnya, dan aku mengerti sekali jiwa Sam. Dia terlalu sentimentil, peka. Dan dia mudah jatuh cinta.

"Aku sadar keadaanku, Sam. Aku sudah mulai tua, tak lagi segar. Dan mungkin juga kau mulai bosan denganku. Apa yang dulu kau lihat indah padaku, menjadi sudah biasa dan tidak isimewa. Aku juga menulis. Tapi mungkin kau bosan dengan gaya tulisanku. Kau menemukan keindahan baru dari tulisannya. Yang segar, yang misterius, yang membuatmu melayang"

"Aku tidak suka kau membanding-bandingkan diri seperti itu"
"Itu kenyataannya"
"Tolonglah, Cin, aku sendiri tidak pernah membandingkanmu dengan orang lain. Apalagi dengan orang yang belum pernah kutemui"
"�Karena kau belum pernah menemuinya, khayalanmu jadi bebas mengembara, dan kau menikmatinya"
"Cin, kau bicara apa sih?"

"Mungkin kau tidak membandingkanku dengannya. Tapi tetap saja kau menemukan keasyikan baru dengannya"

"Oh shit!"

"Aku kasihan padanya. Dia mungkin tidak tahu apa-apa, dan kau mengambil keuntungan darinya. Gadis kecil yang malang. Tapi aku juga kasihan padamu, karena bisa saja dia mempermainkanmu, atau sebenarnya sama sekali tidak peduli padamu"�
�Dan aku kasihan padamu, yang mendera dirimu sendiri dengan cemburu tak menentu"

"Aku lelah, Sam"

Sam menyentuh rambutku. Ingin kukibaskan, tapi kubiarkan. Dan meraihku. Aku memejam mata. Memelukku. Aku bersandar di bahunya. Dan aku mulai terisak.

"Maafkan aku, Cin. Kau sangat mengenalku. Aku bisa mengerti jika suatu saat kau lelah denganku. Aku memang bajingan. Tapi percayalah, ke manapun aku mengembara, kepadamu juga akhirnya aku kembali�

"Berhentilah mengembara, Sam. Kumohon. Berdiamlah di sampingku"

Sam mengeratkan pelukannya. Aku membebaskan isakku yang tertahan cukup lama, karena berusaha menjadi kuat di depannya.
Tidak ada kata-kata Sam yang mengiyakan permintaanku. Hanya diam, karena kutahu dia tak sanggup menjanjikannya. Dan dia tak mau menjanjikan apa yang tidak bisa dia berikan.

Dan aku tahu akan beginilah keadaannya, entah sampai kapan. Read more!

please deh, cin (7): sang pengembara

CITRA

"Siapa dia?", tanyaku.
"Hanya seorang wartawati junior, masih magang. Jika lolos masa percobaan, dia akan jadi wartawan tetap"
"Hebat sekali, dia sanggup menahanmu di sana sehari lagi"
"Aku hanya ingin membantu dia di titik terakhir. Kasihan kan, kalau tinggal sedikit dia tidak lolos.."
"Apakah tanpa bantuanmu dia tidak akan berhasil?"
"Aku hanya ingin memastikan"
"Baik hati sekali kau. Tentu saja. Kalau sudah jadi wartawati tetap , dengan sendirinya kalian akan seatap. Apa teman-temanmu juga sepeduli itu pada para magang?"
"Kurasa iya"
"Kau tidak yakin. Apa kau juga akan sebaik itu kalau dia laki-laki, atau perempuan tapi tidak menarik hatimu?"
"Kurasa"
"Kau tidak yakin. Apa yang kau rasa tentang dia?" Read more!

Friday, August 22, 2008

Plak..!!

“Itu karena kau telah menyakiti anak-anakku”

Plakk..!!

“Dan itu karena kau telah tidur dengan suami orang, apa pun alasanmu”

“Bun…”

“Jangan panggil aku begitu. Kau tidak pantas panggil aku ‘Bunda’. Kau melakukannya di rumahku, di peraduanku…”

***

Aku tidak percaya itu adalah kau.

Aku tidak percaya itu adalah suamiku.

Aku masih ingat bagaimana aku selalu mengingatkanmu, betapa banyak godaan di dunia yang kita geluti ini. Aku telah berpuluh tahun di dalamnya, dan alhamdulillah aku diberi kekuatan untuk bertahan atasnya. Tidak, Ndhuk. Bukan karena aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku ini orang kuat. Aku bisa bertahan sejauh ini bukan berarti aku tidak bisa lupa suatu hari. Aku hanya ingin kau bisa membentengi diri, akan sesuatu yang aku sudah tahu pasti dan aku tidak tahu sekuat apa kau bisa menghindari.

Aku tak percaya bahwa bukan dari dunia itu kau akhirnya jatuh, tapi dari sisiku.

Aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Karenanya kuarahkan kau mencari pekerjaan selain yang satu ini. Bukan karena pekerjaan ini hina atau cela. Dia mulia. Hanya saja kau punya lebih untuk bisa jadi lebih dari sekedar seperti aku. Aku selalu heran dengan penolakanmu atas pekerjaan yang lebih baik yang bahkan mendatangi tanpa kau harus mencari. Aku tidak bisa mengerti alasanmu bertahan bersamaku.

Tidak memang, waktu itu. Tapi kini aku tahu bahwa aku bukanlah alasanmu. Bukan itu yang membuatku sedih. Tapi kenyataan bahwa kau manis di hadapanku, tapi pahit di belakangku. Dengan berjuta kebohonganmu yang terbuka bagiku satu per satu. Dan bahwa alasan itu adalah, suamiku.

Ndhuk, firasat-firasat yang buruk sudah lama kurasakan, dan tak ingin aku percayai. Tidak, sampai aku menemukan bukti. Dan kini setelah kugenggam apa yang kucari, aku masih tidak bisa percaya. Aku masih berharap ini mimpi buruk yang akan berakhir ketika aku bangun pagi hari. Nyatanya, aku sudah bangun berkali-kali, dan ternyata ini memang bukan mimpi.

Kau tega pada orang yang selama ini kau panggil ‘Bunda’. Yang memberimu tempat bernaung, dan membiarkanmu menjadi bagian dari keluarga. Aku tidak minta bayaran apa-apa, Ndhuk. Tapi pantaskah jika ini yang kuterima sebagai balasannya?

Andai bisa kau lihat hatiku, yang kini remuk tak berbentuk. Dan kau masih menggelayut di lengan pria yang selama ini menjadi suamiku, sampai kapan lagi, aku tak tahu.

Jika hal terburuk terjadi padamu, dia harus memilih antara kau, atau aku. Read more!

Friday, July 18, 2008

istriku

boys and girls, please don’t try this at home. it’s very, dangerous…

kami baru saja selesai bercinta. tenggelam dalam kenikmatan yang melelahkan. istriku masih meringkuk di pelukanku. aku sendiri masih melayang.

“tam, kau bersihkan diri dulu”, bisiknya

“kenapa tidak kau dulu?”

dia cuma melenguh pelan, manja.

aku selalu mencintai istriku. sangat. bahkan ketika kami berjauhan, aku selalu memikirkannya, hanya dia. membayangkannya membuatku berdesir. berdekatan dengannya membuatku bergelora. menyentuhnya membuatku ingin menggumulinya…

istriku bukan wanita istimewa. biasa saja. bukan yang cantik seperti luna maya, atau yang badannya aduhai seperti dewi persik atau azhari sekeluarga. hidungnya tak terlalu mancung. matanya tak terlalu lebar atau sipit. dagunya tidak lancip. pipinya tidak naik. semua biasa saja.

badannya apalagi. masih bisa terlihat sisa-sisa baby-weight di sana sini, bahkan setelah lima tahun kelahiran satu-satunya anak kami. kadang dia mengeluhkannya, lalu aku akan berkata aku tak peduli. tapi kurasa sebenarnya dia juga tak peduli, hanya pura-pura saja merasa tak nyaman. sedangkan aku, aku benar-benar tak peduli. malah menurutku, dia lebih bagus agak montok begitu, daripada kurus seperti pada saat aku menikahinya.

istriku lebih suka bercinta dalam terang. maksudku benar-benar terang. dengan lampu neon 18 watt yang terpasang di plafon kamar kami. dan dia akan membiarkanku melihatnya.

aku sendiri lebih suka melakukannya dalam gelap. tidak benar-benar gelap. aku akan membuka gorden jendela kamar kami dan membiarkan cahya-entah-apa masuk dan memberikan sedikit benderang dalam pekat. remang memberiku lebih banyak gairah dan imajinasi di kepalaku. dan begitulah kami ini melakukannya.

dalam terangnya gelap kupandangi wajah istriku, kukecup keningnya. dia sudah tertidur. perlahan kulepas rengkuhku, aku tak mau dia terbangun. aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

ketika aku kembali, kunyalakan lampu.

oh tuhan, itu istriku tertelungkup tanpa busana di ranjang kami. kakinya lurus tak tertekuk sedikit pun. kedua lengannya juga lurus ke atas sehingga bisa kulihat dadanya sedikit saja. nafasnya naik turun perlahan, teratur.

aku tak pernah menyadari istriku seindah ini. ingin kusentuh, kubelai, kucium lagi. tapi aku tak mau mengganggu tenang lelapnya. jadi aku duduk di lantai menikmati keindahannya. memandang, dan memandang saja. dari sudut ini. lalu aku berdiri dan memandangnya dari sudut yang lain. lalu dari sudut yang lain lagi. dan hanya kutemukan keindahan yang sama.

aku bersyukur atas apa yang tuhan beri untukku.

kutarik selimut dan menebarkannya di atas tubuh istriku. aku berbaring di sampingnya sambil tetap memandangi wajahnya yang damai, hingga aku pun jatuh tertidur tanpa menyadarinya. Read more!

Friday, July 4, 2008

you were there, and so was i

sitting few chairs apart, staring at the same stage where the boys and the girls performed. did you look at me for a second or two? i turned my head to you but your eyes are there to the stage.
so it was the end of the show. i was holding my glass beside the table and you were approaching to have one.
"wasn't it great?", you said,"the performance...."
"i'm always amazed with anyone who is able to play a piano" i replied
"is it the one, or the piano?"
"the sound"
"oh"
you drink a little and look away
i was waiting for some thing you might wanted to say
"i play piano" there you go
"o really?"
"i give a lesson actually"
"oh?"
"and the boys and the girls who just performed, are my students"
"oh, that's wonderful"
i always wanted to be able to play piano, but wouldn't it be too late for me to start?
...
...
there you are again, sitting in front of the grand piano in this hotel lounge. can't believe now it's me standing beside you holding the microphone and sing to you. yes, just you and me in this empty space. you play for me, and i sing for you.
a dream i never imagined i'd have, moreover to come true
a chance encounter that brought me to you Read more!