Wednesday, September 10, 2008

please deh, cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning....

bagi yang belum mengikuti dari awal, aku sarankan terlebih dahulu membaca serial ini secara urut dari awal:
please deh, cin....
please deh, cin 2: pertemuan pertama
please deh, cin 3: terjebak di kericuhan
please deh, cin 4: percakapan di pagi hari
please deh, cin 5: cinta aku dan sam
please deh, cin 6: istri sam
please deh, cin 7: sang pengembara


"Kau hanya menduga tanpa alasan"�, katanya.

"Benarkah?"

"Apa dasarmu?"�

"Semua SMS itu?"

"SMS yang mana?"

"Haruskah kutunjukkan satu-satu?"

"œYa, tunjukkan!"�

Kuambil handphonenya, lalu kubuka sms-sms dari satu nama. Yang berurutan, yang terselang satu-dua nama.

"So what, kamu lihat kan, isinya biasa aja. Menanyakan kabar. Konsul tentang ini itu. Wajar kan?"

"Benarkah? Kata-katanya terlalu indah untuk disebut wajar"�
"Masalahnya dia memang penulis. Bahasanya memang bahasa sastra. Aku hanya mengimbanginya"

"Aku juga penulis, tapi aku tidak pernah sms indah pada sembarang orang"

Sam tertunduk, menekur, diam, entah apa yang dipikirkan.
Dan aku mendongak, berusaha kuat, berusaha tegar. Ini bukan pertama kalinya. Aku sudah lama berada di sampingnya, dan aku mengerti sekali jiwa Sam. Dia terlalu sentimentil, peka. Dan dia mudah jatuh cinta.

"Aku sadar keadaanku, Sam. Aku sudah mulai tua, tak lagi segar. Dan mungkin juga kau mulai bosan denganku. Apa yang dulu kau lihat indah padaku, menjadi sudah biasa dan tidak isimewa. Aku juga menulis. Tapi mungkin kau bosan dengan gaya tulisanku. Kau menemukan keindahan baru dari tulisannya. Yang segar, yang misterius, yang membuatmu melayang"

"Aku tidak suka kau membanding-bandingkan diri seperti itu"
"Itu kenyataannya"
"Tolonglah, Cin, aku sendiri tidak pernah membandingkanmu dengan orang lain. Apalagi dengan orang yang belum pernah kutemui"
"�Karena kau belum pernah menemuinya, khayalanmu jadi bebas mengembara, dan kau menikmatinya"
"Cin, kau bicara apa sih?"

"Mungkin kau tidak membandingkanku dengannya. Tapi tetap saja kau menemukan keasyikan baru dengannya"

"Oh shit!"

"Aku kasihan padanya. Dia mungkin tidak tahu apa-apa, dan kau mengambil keuntungan darinya. Gadis kecil yang malang. Tapi aku juga kasihan padamu, karena bisa saja dia mempermainkanmu, atau sebenarnya sama sekali tidak peduli padamu"�
�Dan aku kasihan padamu, yang mendera dirimu sendiri dengan cemburu tak menentu"

"Aku lelah, Sam"

Sam menyentuh rambutku. Ingin kukibaskan, tapi kubiarkan. Dan meraihku. Aku memejam mata. Memelukku. Aku bersandar di bahunya. Dan aku mulai terisak.

"Maafkan aku, Cin. Kau sangat mengenalku. Aku bisa mengerti jika suatu saat kau lelah denganku. Aku memang bajingan. Tapi percayalah, ke manapun aku mengembara, kepadamu juga akhirnya aku kembali�

"Berhentilah mengembara, Sam. Kumohon. Berdiamlah di sampingku"

Sam mengeratkan pelukannya. Aku membebaskan isakku yang tertahan cukup lama, karena berusaha menjadi kuat di depannya.
Tidak ada kata-kata Sam yang mengiyakan permintaanku. Hanya diam, karena kutahu dia tak sanggup menjanjikannya. Dan dia tak mau menjanjikan apa yang tidak bisa dia berikan.

Dan aku tahu akan beginilah keadaannya, entah sampai kapan. Read more!

please deh, cin (7): sang pengembara

CITRA

"Siapa dia?", tanyaku.
"Hanya seorang wartawati junior, masih magang. Jika lolos masa percobaan, dia akan jadi wartawan tetap"
"Hebat sekali, dia sanggup menahanmu di sana sehari lagi"
"Aku hanya ingin membantu dia di titik terakhir. Kasihan kan, kalau tinggal sedikit dia tidak lolos.."
"Apakah tanpa bantuanmu dia tidak akan berhasil?"
"Aku hanya ingin memastikan"
"Baik hati sekali kau. Tentu saja. Kalau sudah jadi wartawati tetap , dengan sendirinya kalian akan seatap. Apa teman-temanmu juga sepeduli itu pada para magang?"
"Kurasa iya"
"Kau tidak yakin. Apa kau juga akan sebaik itu kalau dia laki-laki, atau perempuan tapi tidak menarik hatimu?"
"Kurasa"
"Kau tidak yakin. Apa yang kau rasa tentang dia?" Read more!

Friday, August 22, 2008

Plak..!!

“Itu karena kau telah menyakiti anak-anakku”

Plakk..!!

“Dan itu karena kau telah tidur dengan suami orang, apa pun alasanmu”

“Bun…”

“Jangan panggil aku begitu. Kau tidak pantas panggil aku ‘Bunda’. Kau melakukannya di rumahku, di peraduanku…”

***

Aku tidak percaya itu adalah kau.

Aku tidak percaya itu adalah suamiku.

Aku masih ingat bagaimana aku selalu mengingatkanmu, betapa banyak godaan di dunia yang kita geluti ini. Aku telah berpuluh tahun di dalamnya, dan alhamdulillah aku diberi kekuatan untuk bertahan atasnya. Tidak, Ndhuk. Bukan karena aku ingin menunjukkan padamu bahwa aku ini orang kuat. Aku bisa bertahan sejauh ini bukan berarti aku tidak bisa lupa suatu hari. Aku hanya ingin kau bisa membentengi diri, akan sesuatu yang aku sudah tahu pasti dan aku tidak tahu sekuat apa kau bisa menghindari.

Aku tak percaya bahwa bukan dari dunia itu kau akhirnya jatuh, tapi dari sisiku.

Aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Karenanya kuarahkan kau mencari pekerjaan selain yang satu ini. Bukan karena pekerjaan ini hina atau cela. Dia mulia. Hanya saja kau punya lebih untuk bisa jadi lebih dari sekedar seperti aku. Aku selalu heran dengan penolakanmu atas pekerjaan yang lebih baik yang bahkan mendatangi tanpa kau harus mencari. Aku tidak bisa mengerti alasanmu bertahan bersamaku.

Tidak memang, waktu itu. Tapi kini aku tahu bahwa aku bukanlah alasanmu. Bukan itu yang membuatku sedih. Tapi kenyataan bahwa kau manis di hadapanku, tapi pahit di belakangku. Dengan berjuta kebohonganmu yang terbuka bagiku satu per satu. Dan bahwa alasan itu adalah, suamiku.

Ndhuk, firasat-firasat yang buruk sudah lama kurasakan, dan tak ingin aku percayai. Tidak, sampai aku menemukan bukti. Dan kini setelah kugenggam apa yang kucari, aku masih tidak bisa percaya. Aku masih berharap ini mimpi buruk yang akan berakhir ketika aku bangun pagi hari. Nyatanya, aku sudah bangun berkali-kali, dan ternyata ini memang bukan mimpi.

Kau tega pada orang yang selama ini kau panggil ‘Bunda’. Yang memberimu tempat bernaung, dan membiarkanmu menjadi bagian dari keluarga. Aku tidak minta bayaran apa-apa, Ndhuk. Tapi pantaskah jika ini yang kuterima sebagai balasannya?

Andai bisa kau lihat hatiku, yang kini remuk tak berbentuk. Dan kau masih menggelayut di lengan pria yang selama ini menjadi suamiku, sampai kapan lagi, aku tak tahu.

Jika hal terburuk terjadi padamu, dia harus memilih antara kau, atau aku. Read more!

Friday, July 18, 2008

istriku

boys and girls, please don’t try this at home. it’s very, dangerous…

kami baru saja selesai bercinta. tenggelam dalam kenikmatan yang melelahkan. istriku masih meringkuk di pelukanku. aku sendiri masih melayang.

“tam, kau bersihkan diri dulu”, bisiknya

“kenapa tidak kau dulu?”

dia cuma melenguh pelan, manja.

aku selalu mencintai istriku. sangat. bahkan ketika kami berjauhan, aku selalu memikirkannya, hanya dia. membayangkannya membuatku berdesir. berdekatan dengannya membuatku bergelora. menyentuhnya membuatku ingin menggumulinya…

istriku bukan wanita istimewa. biasa saja. bukan yang cantik seperti luna maya, atau yang badannya aduhai seperti dewi persik atau azhari sekeluarga. hidungnya tak terlalu mancung. matanya tak terlalu lebar atau sipit. dagunya tidak lancip. pipinya tidak naik. semua biasa saja.

badannya apalagi. masih bisa terlihat sisa-sisa baby-weight di sana sini, bahkan setelah lima tahun kelahiran satu-satunya anak kami. kadang dia mengeluhkannya, lalu aku akan berkata aku tak peduli. tapi kurasa sebenarnya dia juga tak peduli, hanya pura-pura saja merasa tak nyaman. sedangkan aku, aku benar-benar tak peduli. malah menurutku, dia lebih bagus agak montok begitu, daripada kurus seperti pada saat aku menikahinya.

istriku lebih suka bercinta dalam terang. maksudku benar-benar terang. dengan lampu neon 18 watt yang terpasang di plafon kamar kami. dan dia akan membiarkanku melihatnya.

aku sendiri lebih suka melakukannya dalam gelap. tidak benar-benar gelap. aku akan membuka gorden jendela kamar kami dan membiarkan cahya-entah-apa masuk dan memberikan sedikit benderang dalam pekat. remang memberiku lebih banyak gairah dan imajinasi di kepalaku. dan begitulah kami ini melakukannya.

dalam terangnya gelap kupandangi wajah istriku, kukecup keningnya. dia sudah tertidur. perlahan kulepas rengkuhku, aku tak mau dia terbangun. aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

ketika aku kembali, kunyalakan lampu.

oh tuhan, itu istriku tertelungkup tanpa busana di ranjang kami. kakinya lurus tak tertekuk sedikit pun. kedua lengannya juga lurus ke atas sehingga bisa kulihat dadanya sedikit saja. nafasnya naik turun perlahan, teratur.

aku tak pernah menyadari istriku seindah ini. ingin kusentuh, kubelai, kucium lagi. tapi aku tak mau mengganggu tenang lelapnya. jadi aku duduk di lantai menikmati keindahannya. memandang, dan memandang saja. dari sudut ini. lalu aku berdiri dan memandangnya dari sudut yang lain. lalu dari sudut yang lain lagi. dan hanya kutemukan keindahan yang sama.

aku bersyukur atas apa yang tuhan beri untukku.

kutarik selimut dan menebarkannya di atas tubuh istriku. aku berbaring di sampingnya sambil tetap memandangi wajahnya yang damai, hingga aku pun jatuh tertidur tanpa menyadarinya. Read more!

Friday, July 4, 2008

you were there, and so was i

sitting few chairs apart, staring at the same stage where the boys and the girls performed. did you look at me for a second or two? i turned my head to you but your eyes are there to the stage.
so it was the end of the show. i was holding my glass beside the table and you were approaching to have one.
"wasn't it great?", you said,"the performance...."
"i'm always amazed with anyone who is able to play a piano" i replied
"is it the one, or the piano?"
"the sound"
"oh"
you drink a little and look away
i was waiting for some thing you might wanted to say
"i play piano" there you go
"o really?"
"i give a lesson actually"
"oh?"
"and the boys and the girls who just performed, are my students"
"oh, that's wonderful"
i always wanted to be able to play piano, but wouldn't it be too late for me to start?
...
...
there you are again, sitting in front of the grand piano in this hotel lounge. can't believe now it's me standing beside you holding the microphone and sing to you. yes, just you and me in this empty space. you play for me, and i sing for you.
a dream i never imagined i'd have, moreover to come true
a chance encounter that brought me to you Read more!

Friday, June 20, 2008

Sam's wife

this is just a fragment of a story I'm working on in Indonesian. but this fragment it self stands as a short story, and has a happy ending.
and since english is not my mother language, I apologize for any mistakes I might make writing it.



We went to Bogor right after that. I wanted to say ‘no’ but I couldn’t. I didn’t know why Sam wanted me to go with him. In my evil imagination, Sam’s wife is a sick lady waiting for her death. This weekend is Sam’s last effort to make her happy. Sam brought me to be introduced to his wife, and to ask for her permission, or may be an opinion, about her substitute if she finally dead.
Crazy.
Even in a story, I wouldn’t write such a stupid thing.
“Why do I have to go?”
“Because I need you to”
“Sam, don’t you understand? You just broke my heart into pieces. I couldn’t say a word, I couldn’t even cry. And now you ask me to accompany you having weekend with your wife, and you don’t tell me why. You are crazy, Sam!”
I was so mad. My lunge was pressed so my voice didn’t come out right.
Sam just looked at me with those begging eyes. Oh those eyes. I could not refuse.

***

In Jagorawi tollway, instead of taking left turn to Bogor, Sam drove straight on.
“Why didn’t take the left turn?”
“What’s wrong with it?”
“You said we are going to Bogor”
“Bogor’s edge, maybe”
“Where are we going, Sam? Oh, Puncak?”
“No”
I slammed my body on the seat rest, “I don’t know why I trust you, Sam. May be you are taking me to a tea plantation area, rape me, and then murder me…”
“Cin!”, Sam yelled at me. I guess he was shocked with my words, I felt the car going crazy for seconds.
“Sorry, okay, I won’t say a word. I hope I will never regret this trip”
The rest of the trip was silence. I just looked outside the window. The view should be beautiful, should be. But I couldn’t feel the beauty. My heart was feeling too bad for that.
Sam didn’t say a word either. His eyes just kept on the road. Don’t know what was going on his mind. In weekend, these hours, traffic jam is a certainty. This trip felt much longer, and so was the torturement. I wanted to get out and went home, but I knew I couldn’t.
Suddenly I regret I decided to go.
Suddenly I regret I received Sam’s love.
Suddenly I regret for hoping too much.
Suddenly I regret my first met with Sam.

***

The sun has set when we entered the tea plantation area, few kilometers before Puncak. I smiled remembering what I worried about. A few kilometers on rock path and we arrived to an old style big Dutch house. Big. Tall. Boastful.
Sam helped me with my bag, which I filled just with few pieces of clothes. I wondered why Sam didn’t bring any.
I followed him to the house. A man and a woman were awaiting in front of the door. I guess they were the villa keeper. The man took the bag in Sam’s hand. The woman brought me to my room, “Come on, Neng(*)”
I looked at Sam, asking for his opinion.
“Take a rest, she will show you your room”
I did what he said. Sam left us. My room was so clean and white. The only color came out from the roses in the vase on the table.
“Thank you. May I know your name?”
“Just call me Lilis”
“Thank you, Lis”
“You are welcome, Neng”
Lilis walked to the door, leaving me.
“Lis…”
She turned around.
“Do you know Sam?”
“No I don’t. We just take care of the villa and the guess. Mr. Sam rent this for this week end. They said some people will come. I and my husband have prepared the rooms and everything.”
“Will there be a lot of people to come? Do you know them?”
“Sorry, Neng, I don’t”
“It’s okay, thank you”
“I’ll be behind, if you need me”
I nod, Lilis left.

***

I just finished my bathe. Sam hasn’t called me, and I was feeling lazy to call him first. I was waiting for him to call me and introduce me to his wife, or do anything he planned. I haven’t met anyone except Lilis and his husband.
Knock Knock.
I opened the door and Lilis came up with a box.
“Mr. Sam asked Miss Cin to wear this dress”, she gave me the box.
In doubt, but I took it and brought it to bed.
“You know my name?”
“Mr. Sam told me”
A kebaya and a long batik skirt.
“When do I have to wear this, he said? This looks like a wedding dress”
Lilis didn’t answer my question, she just left. It was Sam got in my room.
“It is. I’ve asked your sister to help me to get it. I hope you like it. I mean, a bride usually choose her own wedding dress.”
I looked at Sam, with questions.
Sam sat by me, grasped my hand.
“Cin. You told me once that you would marry me. You even said, you could marry me right that time when I asked you to”
“I did, so much. But that was before I knew you are married”
“What made you think I am married?”
Oh God. I wanted to hit a hammer on this man’s head. Wasn’t it him who told me he was going to have a week end vacation with his wife? I pulled my hand off his.
“Don’t play with me, Sam. Now just tell me what you want. Where is your wife? Why are you taking me here?”
“I never played with you. And I want to marry you. And my wife soon will be here if you say you do. And I brought you here to make you my wife”
“Your second wife? Third? And after we get married, your first wife will come and see me? For what? To say bad words on me? Or may be asking for my help to serve you?”
Sam sighed long and deeply, as he was doing it for me, who has lost control.
“Will you please listen to me, and promise not to cut before I finish?”
I nod.
“Right this time. You father, your mother, your sister, and your younger brother are here. They’ve been waiting since this morning. And so are my mother and my two brothers. I’ve talked to them. It was hard at the beginning. You brother even told me I was crazy. But I’m glad they finally understood”
Sam stopped, but I knew he wasn’t finish yet.
“This time, is just for our family. If you want a party for friends and families, we will do it later. Cin I want you to marry me, now. That’s why I told you, my wife would be here if you would. Because if you wouldn’t, I will get out of this house, remaining as a single man. So will you?”
I closed my face with two hands. All feelings mixed in my heart. I didn’t even know what to feel. My body was trembling I was so happy. But at the same time I felt so ashamed for the suspicious thought of Sam.
Sam took may hands of my face, and held them both.
“I’m done. Now you can answer me, you have to”
“Oh, Sam I would. Of course I would. You… you are crazy, I hate you!”
I hugged Sam tight, didn’t want to let him go.



*)Neng: Miss, in Sundanese. Read more!

please deh, Cin (6): istri sam

Kami berangkat ke Bogor siang itu juga. Aku ingin bilang tidak, tapi tak bisa. Aku juga tak tahu kenapa Sam ingin aku ikut. Dalam angan jahatku, aku membayangkan istri Sam adalah perempuan sakit-sakitan yang sedang menjemput ajal. Liburan ini adalah usaha Sam untuk membahagiakannya di saat-saat terakhir. Aku dibawa untuk dikenalkan kepada istrinya, mungkin sekalian minta ijin atau pendapat istrinya, mengenai calon pengganti yang akan mendampingi Sam jika dia meninggal.

Gila.
Bahkan dalam cerpen pun aku tidak akan menulis hal sesinting itu.
“Kenapa aku harus ikut?”
“Aku butuh kau ikut”
“Sam, tak kau tahukah perasaanku saat ini? Kau baru saja membuatku hancur, sampai aku tak bisa berkata-kata, bahkan menangis. Sekarang kau memintaku untuk menemanimu berlibur dengan istrimu. Dan kau tidak mau menjelaskan kenapa. Kau sinting, Sam!”
Aku benar-benar marah, dadaku sesak sehingga kata-kataku keluar seperti tertahan.
Sam hanya memandangku dengan mata memohon. Mata itu. Aku tak bisa menolak.

***
Di tol jagorawi, Sam tidak belok kiri ke arah Bogor, tapi mengambil arah lurus ke arah Ciawi/Bogor.
“Kenapa lurus?”, tanyaku.
“Kenapa memangnya?”
“Katanya mau ke Bogor”
“Bogor coret maksudnya”
“Mau ke mana kita? Oh. Puncak?”
“Bukan”
Aku menghempaskan badan ke sandaran, “Aku tidak tahu kenapa aku mempercayaimu Sam. Jangan-jangan kau mau membawaku ke tengah kebun teh, memperkosaku, lalu membunuhku...”
”Cin!”, Sam setengah membentak dan menoleh ke arahku. Dia terlihat terhentak oleh kata-kataku sampai mobilnya sempat oleng sesaat.
“Maaf. Baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Mudah-mudahan aku tidak menyesali perjalanan ini”
Sepanjang jalan aku diam. Memandang ke luar jendela. Harusnya pemandangan indah, harusnya. Tapi aku tak bisa merasakan keindahannya. Suasana hatiku terlalu buruk untuk merasakan keindahan.
Sam juga hanya memandang jalan, entah apa yang dipikirkan. Mulutnya juga terkunci.
Akhir pekan begini, jam segini, macet pasti. Perjalanan makin terasa panjang, juga siksaan yang kurasakan. Aku ingin turun dan kembali pulang, tapi tak mungkin.
Tiba-tiba aku menyesal sudah berangkat.
Tiba-tiba aku menyesal menerima cinta Sam.
Tiba-tiba aku menyesal sudah terlalu berharap banyak.
Tiba-tiba aku menyesal bertemu Sam.

***

Hari sudah petang ketika kami memasuki kawasan perkebunan teh sebelum Puncak. Aku tersenyum sendiri mengingat kekhawatiranku tadi. Setelah melewati beberapa kilometer jalan berbatu kami tiba di sebuah rumah kuno gaya Belanda. Aku selalu ingin rumah bergaya belanda. Tinggi. Angkuh. Dengan jendela yang tinggi juga, dan pilar-pilar. Dan halaman yang luas mengelilingi rumah.
Sam membantu membawakan tasku yang hanya berisi beberapa lembar pakaian. Aku heran, dia sendiri tidak membawa apapun.
Aku mengikuti Sam dari belakang. Dua orang yang tampaknya pengurus villa menyambut kami. Yang laki-laki meminta tas yang di bawa Sam, yang perempuan mempersilahkan aku menuju kamar. “Mari, neng”
Aku memandang Sam, minta pendapat.
“Istirahatlah dulu, dia akan mengantar ke kamarmu”
Aku menurut. Sam meninggalkan kami.
Kamarku bersih. Serba putih. Satu-satunya warna adalah bunga mawar kuning yang diletakkan di atas meja rias.
“Terima kasih, boleh tahu namamu?”
“Panggil saja Lilis”
“Terima kasih, Lis”
“Sama-sama Neng”
Lilis berjalan ke arah pintu, meninggalkanku.
“Eh, Lis”
Dia berbalik.
“Kau kenal Sam?”
“Tidak Neng. Saya hanya bertugas mengurus tamu villa ini. Kebetulan akhir pekan ini Pak Sam yang sewa. Katanya akan ada beberapa orang yang datang. Saya dan suami saya sudah siapkan kamarnya”
“Banyakkah yang datang? Kau tahu siapa saja mereka?”
”Maaf, Neng. Saya tidak tahu”
“Ya sudah, terima kasih”
“Saya akan di belakang, kalau-kalau Neng butuh bantuan saya”
Aku mengangguk, Lilis pergi.

***
Aku baru selesai mandi. Sam belum menghubungiku. Aku juga malas menghubunginya. Aku menunggu dipanggil untuk dikenalkan kepada istrinya, atau apapu rencananya. Dari tadi aku belum bertemu siapa pun selain Lilis dan suaminya.
Terdengar pintu diketuk, aku buka, dan Lilis berdiri membawa sebuah kotak.
“Pak Sam minta Neng Cin memakai baju ini”, katanya sambil mengulurkan kotak itu padaku.
Agak ragu aku mengambilnya, dan membawanya ke tempat tidur.
“Kau tahu namaku?”, kataku sambil memeriksa isi kotak itu.
“Pak Sam yang kasih tahu”
Sebuah kebaya dan rok panjang berbahan batik.
“Kapan aku harus pakai baju ini katanya? Baju ini seperti baju pengantin”
Lilis tidak menjawab, malah pamit meninggalkanku. Rupanya Sam muncul di depan pintu.
“Itu memang baju pengantin. Aku minta bantuan kakakmu untuk memilihnya. Mudah-mudahan kau suka. Maksudku, biasanya pengantin memilih sendiri baju pengantinnya ‘kan?”
Aku memandang Sam penuh tak mengerti.
Sam duduk di sampingku, meraih tanganku.
“Cin, kau pernah bilang kau mau menikah denganku. Bahkan katamu, waktu itu, kau bersedia menikah saat itu juga”
“Dulu, aku sangat ingin. Sebelum aku tahu kau sudah beristri”
“Kenapa kau mengira aku sudah beristri?”
Aku ingin menggetok kepala orang ini. Bukankah baru siang tadi dia mengatakan akan berlibur dengan istrinya? Dengan agak kasar aku menarik tanganku dari genggamannya.
“Kau jangan main-main denganku, Sam. Sekarang katakan saja apa maumu. Mana istrimu. Kenapa kau ajak aku kemari?”
“Aku tidak pernah main-main denganmu. Aku mau menikah denganmu. Istriku akan ada di rumah ini, hanya jika kau mau. Dan kau kuajak kemari, untuk kujadikan istriku”
“Jadi istri keduamu? Atau ketiga? Ke berapa? Dan kalau kita sudah menikah, istri tuamu akan menemuiku, begitu? Untuk apa? Memaki-maki aku? Atau justru untuk membantunya melayanimu?”
Sam menghela napas panjang, seolah melakukannya untukku yang benar-benar tak bisa lagi menahan diri.
“Maukah kau mendengarkan aku bicara, dan berjanji tak akan memotong, sebelum aku selesai?”
Aku mengangguk.
“Saat ini, Ayah, Ibu, kakakmu, dan adik lelakimu sudah berada di sini. Mereka sudah menunggu sejak tadi pagi. Aku sengaja meminta mereka datang. Juga Ibuku dan kedua adikku. Aku sudah mengajak mereka bicara tentang masalah ini. Tadinya mereka juga sulit untuk mengerti, bahkan adikmu mengatakan aku gila. Tapi akhirnya aku bisa meyakinkan mereka”
Sam berhenti, tapi aku masih diam karena aku tahu dia belum selesai.
“Acara kali ini, hanya untuk keluarga kita. Jika nanti kau menginginkan pesta, mengundang teman dan saudara, kita akan melakukannya. Cin, aku ingin kita menikah, sekarang. Itulah sebabnya, aku katakan istriku akan ada di sini kalau kau mau. Karena kalau tidak, aku akan pulang dari sini tetap sebagai bujangan. Jadi, maukah kau?”
Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Perasaanku campur aduk tak karuan. Aku bahkan tak tahu apa yang kurasakan, atau harus merasa bagaimana. Tubuhku bergetar karena bahagia. Tapi di saat yang sama aku merasa malu karena telah mencurigai Sam membabi buta.
Sam membuka tanganku, dan menggenggam keduanya.
“Aku sudah selesai, kau boleh menjawab. Kau harus menjawab”
“Oh, Sam. Aku mau. Aku mau. Kau... kau benar-benar sinting. I hate you”
Aku memeluk Sam erat-erat, tak ingin melepaskan.

***

Matahari menyusup celah angin-angin. Hangatnya menyapu lembut wajahku, mengajakku membuka mata, menemukan Sam yang sedang berbaring miring di sampingku, menyangga kepalanya, memandangiku. Tangannya mempermainkan anak rambutku.
“Selamat pagi, Cin....”
“Sam, kamu sedang apa sih?”
“Memandangimu. Aku suka. Kau tampak tenang dalam tidurmu”, lalu dia mengecup hidungku.
Aku menenggelamkan kepala di dadanya. Merasakan kedamaian di dalam rengkuhnya. Masih terasa lagi keindahan semalam. Dimulai dari tatapan, yang diikuti sentuhan, kecupan, ciuman. Dan kami mulai menjelajah penuh keingintahuan. Mendaki bersama dalam tenang, sama sekali tak ada ketergesaan, walau kami didera penasaran. Bisikan cinta Sam di telingaku begitu menggetarkan, meski aku telah berulangkali mendengarnya sebelumnya.
“Sam....”
”Ya?”
“Terima kasih untuk semuanya”
“Kau berhak mendapatkan lebih dari yang kuberikan. Aku minta maaf hanya bisa memberikan ini”
”Kau sudah memberi lebih dari yang kuharapkan. Aku mencintaimu, Sam”
Sam mengecup rambutku lembut, “Dan kau tahu betapa aku mencintaimu”


terkait:
please deh, cin....
please deh, cin 2: pertemuan pertama
please deh, cin 3: terjebak di kericuhan
please deh, cin 4: percakapan di pagi hari
please deh, cin 5: cinta aku dan sam
please deh, cin 7: sang pengembara
please deh, cin 8: the end is the beginning is the end is the beginning... Read more!