Tuesday, October 14, 2008

dadaku masih sesak oleh kesalku

Tenggorokanku sakit menahan tangis. Ya ampun, aku pengen nangis. Tapi masak sih sampai harus menangis?

Yoyok duduk saja di depanku. Tidak mencoba menenangkan atau menjelaskan apa pun. Padahal aku yakin sekali dia tahu kejengkelanku karena dia lupa membawakan pesenanku.

“Kamu selalu begitu. Dipesenin satu aja kok ya lupa. Yo mesti, karena itu bukan kepentinganmu, ya kan? Karena buatmu ngga penting, makanya ngga nyantel di pikiranmu. Tapi bagiku itu penting. Kalo aku ngga dapet senarnya sekarang aku ngga bisa benerin tas Mbak Eny lagi, soalnya besok kita sudah harus berangkat. Dan aku udah janji sama Mbak Eny aku akan selesai sebelum kita berangkat. Itu tasnya mau dia bawa mudik juga….”

“Aku tahu…”

“Kalau tahu kenapa ngga dibeliin juga?”

“Aku lupa..”

“Ya kenapa bisa lupa?

“Ya aku ngga tahu, namanya lupa ya lupa aja…”

“Memangnya apa sih yang kamu pikirkan, sampai pesenan satu aja ngga inget? Tadi pagi aku kan sudah nanya, bisa ngga? Kalau ngga bisa biar aku pergi sendiri, tak berangkat sendiri, tak beli sendiri. Numpak angkot ngga masalah yang penting pesenannya Mbak Eny bisa selesai tepat waktu. Tapi kamu bilang ngga usah ngga usah! Puasa, kasihan kamu panas-panas. Biar aku beliin, nanti kamu benerin sebentar habis buka. Ya emang sebentar, habis buka bisa. Tapi kalo barangnya ngga ada kan jadi ngga bisa….”

Yoyok cuma diam menghela nafas. Sebenarnya aku juga tahu banyak yang dia pikirkan. Akhir bulan selalu menuntut dia jungkir balik menyelesaikan pekerjaan sebelum tutup buku. Apalagi ini tutup bukunya maju karena akhir bulan perusahaan sudah harus libur lebaran.

Tapi aku tetap saja jengkel. Maksudku ya itu tadi, kalau memang tidak bisa aku tak beli sendiri, tapi ngga boleh. Sekarang?

“Tadi siang aku tu ngga ngapa-ngapain. Cuma menata baju yang mau kita bawa besok. Udah. Seharian bengong, nonton tivi, mau main tetangga sudah sepi. Coba tadi aku pergi sendiri kan ada hasilnya. Harusnya aku ngga usah nitip kamu”

Yoyok masih diam saja. Malah menyambar remote tivi dan menyalakannya.

“Mas!”

“Apa…”

“Kamu ini lho. Kok malah nyetel tivi”, uuuhhhh… Jengkelku semakin menjadi.

“Lha gimana? Aku disuruh apa?”

Kurebut remotenya, dan kumatikan tivinya.

“Anter aku beli senar”

“Masih buka? Katamu tutupnya jam empat…”

“Di toko yang satunya, di Peterongan. Agak mahal, tapi buka sampai jam delapan”

Yoyok berdiri, mengambil kaos yang tersampir di kursi makan, dan kunci motor yang tergantung di paku di kusen pintu kamar.

“Ayo..”, katanya.

Aku masih duduk di tikar, memegang bantal yang tadi kugebuk-gebukkan ke badan Yoyok saking jengkelnya.

“Lha kamu ngga ndang cekat-ceket gitu malahan. Ayo, selak tutup. Ini sudah setengah delapan”

Yoyok mengulurkan tangan membantuku berdiri.

***

“Kalau masih ada jalan keluar, kenapa sih harus marah-marah begitu?” tanya Yoyok di perjalanan.

“Habis aku jengkel”

“Aku kan sudah minta maaf. Aku bener-bener lupa. Bukannya mau gagalin rencana kamu yang sudah thirik-thirik itu..”
”Ya aku merasa dikesampingkan aja. Wong pesen satu barang aja kok sampe lupa. Kebangeten”

“Ya aku kan ngga sengaja. Seharian aku dikejar-kejar dealer dan customer… Trus kalau kamu marah-marah, apa senarnya muncul begitu?”

Aku meninju punggungnya.

“Lha mbok dari tadi langsung ngajak berangkat beli kan bisa. Dan ngga kemrungsung kaya gini, bisa agak gasikan. Aku sholat maghrib sebentar trus berangkat, kan agak longgar”, kata Yoyok lagi.

“Habis aku jengkel…”

“Jengkel kok dipiara…”

Yoyok meraih tanganku dan mendekapnya di dadanya. Aku menyandarkan kepala di punggungnya. Mbuh lah. Nanti kalau sampai di Peterongan tokonya sudah tutup, aku akan langsung telpon Mbak Eny, minta maaf karena ngga bisa benerin tasnya hari ini. Mudah-mudahan dia mau mengerti.

Eh, tapi tentu saja aku harap tokonya belum tutup!

No comments: